Inspirasi Kauny

What You Do is What You Get

Rizqy, anak nomor dua saya dengan keberuntungan yang tidak terlalu memihaknya saat masih dalam kandungan. Pada saat itu, kondisi finansial saya sedang berada di limit terbawahnya hingga kemungkinan mengurus seorang bayi pun terlihat amat sangat mustahil di mata saya. Saya sempat memutuskan untuk mengambil jalan pintas, yaitu menggugurkan Rizqy. Upaya tersebut bahkan didukung oleh satu pil dua pil obat untuk menghambat pertumbuhan janin Rizqy. Akan tetapi, Allah lebih sayang Rizqy. Anak lelaki kebanggaan saya akhirnya alhamdulillah berhasil lahir ke dunia.

Walaupun begitu, Rizqy tumbuh menjadi anak yang terlampau hiperaktif. Mungkin, akibat obat-obatan yang sempat saya konsumsi beberapa waktu sebelumnya. Bahkan, sebelum ia menginjak umur dua tahun, tubuhnya sudah beberapa kali penuh lebam pukulan saya. Di pikiran saya pada saat itu hanya satu hal: Rizqy nakal, Rizqy nakal, paling nakal di antara saudaranya. Saya tidak berpikir jauh akibat dari pukulan demi pukulan yang Rizqy rasakan. Saya bahkan masih memukulinya hingga dia berumur empat tahun.

Hingga suatu hari, seorang wanita muslimah bernama Bunda Vita memperingatkan saya.

Seorang anak adalah titipan dari Allah. Kado terbaik yang pernah diterima setiap mahkluk hidup. Jika tidak mau menjaganya, maka Allah tidak akan segan untuk mengambilnya kembali.

Rasa penyesalan mulai berangsur-angsur memukuli saya, seolah-olah pembalasan untuk setiap pukulan yang saya pernah layangkan di tubuh mungilnya. Mama tidak mau kehilangan kamu, Rizqy. Tidak lagi.

Pada saat Rizqy menduduki bangku kelas satu, Rizqy menjadi sumber masalah yang menyebabkan adu domba para orang tua. Rizqy memukul temannya hingga temannya menangis. Dunia terasa bergerak terlalu cepat, dan meledaklah saya dengan amarah. Mana sempat saya berpikir jauh, jika Rizqy melakukan itu karena saya melakukannya terhadap dia.

Saya pun hilang kontrol dengan mulai menghajar Rizqy di depan orang tua temannya, bekasnya masih ada setelah tiga hari. Tidak berhenti mengingatkan atas aksi saya. Rizqy meminta maaf kepada saya, berulang kali dan menolak untuk pergi ke sekolah lagi. Saya bahkan masih terngiang suaranya yang mengatakan: “Kenapa Mama lebih percaya sama orang lain? Yang anak Mama kan Rizqy.”

Saya akhirnya mencoba menghubungi adik kelas saya, yang kebetulan adalah sahabat Bunda Vita, salah seorang pengasuh pesantren. Beliau mengatakan bahwa umur Rizqy belum mencapai umur untuk memasuki asrama, hanya akan menyusahkan ibu asramanya saja, Saya menjelaskan dengan panjang lebar detil masalah Rizqy.

Keputusan terakhir adalah Bunda Vita yang membawa Rizqy ke Cikarang untuk di test hafalannya. Ternyata Bunda Vita menyakinkan berhasil meyakinkan pengasuh pesantren, bahwa Rizqy dapat di test adaptasinya selama seminggu. Rizqy adalah anak yang mandiri, dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Jika saya dan ayahnya pergi, dia tidak pernah merujuk untuk ikut walaupun hingga malam. Anak lelaki saya menjaga dirinya sendiri selama saya pergi, makan, ganti baju, dsb. Semenjak insiden pertengkaran Rizqy dan temannya, akhirnya Rizqy yang memutuskan untuk memasuki pesantren.

“Lho, kamu tuh tau pesantren dari mana to, Nak?”

“Pesantren itu apa?” tanya saya pada saat itu.

“Tempat mengaji ma, dan shalat,” jawabnya.

Saya mencoba mengacuhkan kepala saya yang mulai berdenging, meneriakkan kalimat bahwa Rizqy menolak hidup bersama saya.

“Di sana tidak ada mama, tidak ada papa.”

“Ya tidak apa-apa, kan ada bu guru,” jawabnya lagi.

“Rizqy tidak mau ya, tinggal sama Mama?”

“Bukan Mama, Rizqy mau di pesantren saja.”

Perasaan saya campur aduk, takut bercampur lega. Lega karena saya tidak akan merasakan hasutan setan untuk memukuli Rizqy karena ulahnya.

Di Bambu Apus, saya bertanya kepada Ustad Bobby apakah menitipkan anak di Pesantren adalah sebuah perbuatan yang baik. Pertanyaan tersebut dibalas oleh jawaban yaitu “jika kita sayang terhadap anak, kita bisa menitipkannya di Pesantren. Tapi, apakah saya terhitung sebagai orang tua yang kejam? Enggan mengurusi anak karena kenakalannya?”

Ummi Maya menjawab, “setiap anak yang masuk Askar Kauny adalah jiwa-jiwa pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah dua bulan berlalu, Rizqy berubah 180 derajat. Saya masih ingat janji yang saya ikat pada malam itu, tidak boleh menganggap bahwa Rizqy adalah anak yang nakal. Allah Subhanahu wa Ta’ala tahu berapa kali namanya terselip setiap kali tangan saya menengadah untuk berdo’a. Saya menyesal, menyesal karena telah memukuli Rizqy. Saya masih ingat gejolak kegembiraan di hati saya saat mengetahui Rizqy yang senang setoran surat hafalannya.

Karenanya, saat Rizqy pulang ke rumah ketika liburan pesantren, atau kena skors saya senang sekali. Akhirnya saya bisa memeluknya setiap malam. Rizqy bahkan rajin melakukan shalat lima waktu, tahajjud dan dhuha tak luput dilakukan. Puasanya berjalan lancar.

Sekarang saya sedang berniat untuk mengambil kuliah jurusan sastra Mandarin, karena saya dipercaya untuk mengajar di Mahad Askar Kauny. Saya ikhlas menunggu berapa lama pun, karena Mahad membantu Rizqy untuk berubah positif.

Saya tidak bisa membayar dengan uang ataupun banyak benda untuk semua yang telah membimbing Rizqy, hingga ia bisa berubah. Tapi saya selalu berdoa, semoga kelak jika rezeki saya bertambah banyak, saya akan berbagi untuk Mahad Askar Kauny di sini.

Karena satu hal yang saya percayai, perbuatan buruk akan dibalas dengan keburukan sedangkan perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan.

Wassalam,

Diceritakan oleh Bunda Rizqy

KenKarein

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *