Kabar Kauny

Saya Percaya Kamu

Lia (bukan nama sebenarnya), remaja hitam manis kelas 1 SMP ini menjadi perbincangan hangat para pengasuh pesantren. Remaja pendiam yang sedang menjalani ujian saringan masuk itu terlihat sangat tidak bersemangat, semenjak masuk hari senin hingga jumat subuh ia sama sekali tak tertarik untuk menghafal Alquran, bahkan makan pun ogah-ogahan. Ketika kawan-kawannya belajar antusias di kelas, ia hanya berdiam diri di tepi selokan, atau di bagian belakang asrama. Tatapannya kosong. Sudah bermacam cara kami coba, mengajaknya mengobrol, bercanda, serius, main bola, berenang tak juga membuatnya ceria.

Jumat ba’da subuh, ketika jadwal memberikan hafalan quran dan murojaah selesai, saya memanggil Lia. Ini cara terakhir yang setelahnya saya tidak punya ide akan pakai model apalagi.

Setelah menatap matanya yang (seperti biasanya) menerawang kosong, saya menepuk pundaknya dan perlahan saya berujar “Lia, hampir seminggu kamu di sini, besok adalah ujian penentuan apakah kamu akan diterima di sini atau tidak. Kalau kamu masih seperti ini, Abi yakin kamu nggak bisa diterima. Abi nggak tau apa masalah kamu, setiap Abi ajak bicara kamu selalu diam. Sekarang begini, ini permintaan terakhir abi sama kamu, ambil wudhu, sholat dua rakaat, angkat tanganmu, minta agar Allah ngasih kamu petunjuk, minta yang kamu mau minta. Apapun keputusan kamu setelah sholat, kasih tau abi. Pasti abi dukung kamu. Apakah kamu mau di sini, atau mau pulang, yang penting kamu sudah sholat dan minta petunjuk.”

Dzuhur hari itu, saya melihat Lia yang mulai berbeda, tampak lebih ceria, mengikuti kelas, dan esoknya ketika ujian, meski tak sempurna, ia tampak antusias ketika menyetorkan hafalannya.

Beberapa minggu kemudian, kami makin hangat membicarakan Lia, namun kini bukan karena ia tak bersemangat, tapi justru karena ia tampak sangat bersemangat menghafal, sangat ceria. Bahkan, seminggu lalu, ketika kami mengadakan minggu tenang menjelang ujian, Lia datang membawa Alquran, “Bosan, bi, kalau nggak belajar, belajar aja yuk,Bi!” saya hanya tersenyum.

Kemarin, ketika Lia menyetorkan hafalan, saya tak mampu melihat wajahnya, karena saya menunduk, berusaha menyembunyikan mata saya yang berkaca-kaca, ta’zim pada kebesaran dan kasih sayang Allah pada Lia yang kini tampak antusias menghafal.

Memberikan kepercayaan, membiarkan mereka mengambil keputusan dengan sadar, sembari sholat dua rakaat dan mengadu meminta pada Allah rupanya bisa jadi cara jitu yang bisa diambil ketika menghadapi masalah.

Begitulah, beberapa anak dengan masalah serupa, kami coba terapi dengan cara di atas. Minta tolong lewat sholat dan berikan kepercayaan kepada mereka bahwa mereka mampu memilih yang terbaik buat dirinya.

Allahurrahmaan, Allahurrahiim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *