Inspirasi Kauny

Rumah untuk Reina

Sudah menjadi semacam “common sense” bahwa setiap individu memerlukan rumah untuk tempat tinggal. Tak terkecuali Reina dan keluarganya. Rumah kontrakan pun menjadi tempat tinggal sehari-hari bagi mereka. Suatu hari, Ibu Reina tidak memiliki cukup uang untuk membayar tempat kontrakan mereka. Dan hal itu sudah cukup menakutkan dengan kemungkinan mereka akan kehilangan tempat tinggal, ditambah gosip yang beredar tentang kekejaman sang pemilik rumah. Menurut gunjingan para tetangga, sang pemilik rumah bahkan tidak segan-segan mengusir mereka yang belum membayar uang sewa.

Ibu Reina cukup khawatir dengan keadaan tersebut, maka saat waktu makan datang; wanita tersebut enggan untuk menyuap barang sesendok nasi. Pikirannya terperas mencari cara untuk membayar rumah kontrakannya. Gurat tuanya makin menyiratkan kegelisahan di wajahnya.

Reina yang melihat kondisi Ibunya hanya dapat terdiam, gadis berumur 15 tahun itu tidak mau menambah beban ibunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak diperlukan. Tapi tetap saja, mau tidak mau Reina harus membujuk Ibunya untuk makan. Ajakan tersebut hanya berbuah penolakan halus dan membuat Reina semakin merasa sedih. Berbagai pikiran melintas di benak gadis itu. Kalau Ibu sakit bagaimana? Kalau kami diusir bagaimana? Mau tinggal di mana? Bayar pakai apa? Sama siapa? Reina pikir dia akan benar-benar menjadi gila jika tetap memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.

Batinnya pun hanya dapat pasrah dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Malam mulai datang, dan harapan Reina sudah hampir pupus karena dia pikir bantuan tak akan mampir hari itu. Reina juga tak jarang memergoki Ibunya berlinang air mata selagi menengadahkan tangan seusai menjalankan shalat dhuha dan sholat fardhu hari itu. Batin Reina makin keras berdoa, mencari sebab-sebab rezeki yang ia pikir pastilah masih tergantung di langit, ia hanya berharap Allah mencukupi kebutuhan mereka saat itu, membayar uang sewa rumah, itu saja.

Orang bilang, saat kamu menyerah adalah waktu yang sama saat keajaiban mulai memainkan perannya dalam kehidupan. Saat menyerah sebenarnya hanya sepersekian detik dari pertolongan Allah. Bukankah bersama kesulitan selalu ada kemudahan? Akan tetapi, banyak orang yang sudah menyerah sebelum pertolongan Allah tersebut datang. Kita, manusia memang sering kali seperti itu. Berpikir bahwa segalanya sudah berakhir bahkan sebelum segalanya dimulai. Namun tidak dengan Reina, remaja belia ini sadar bahwa,

Semua belum berakhir sebelum segalanya berakhir..,

Jika diibaratkan cahaya, harapan Reina seperti redup remang-remang kemudian menyala kembali sebelum akhirnya berubah menjadi keremangan yang membuat dadanya sesak. Reina juga sadar bahwa dia berada di dalam sungai yang membawanya terombang-ambing tanpa arus yang jelas. Ia seperti sedang berpegangan kepada sebatang kayu yang tidak cukup kokoh untuk menopang dirinya lebih lama lagi. Jika Ibunya dapat membayar kontrakan mereka, kayu tersebut akan membawa Reina ke daratan. Tapi jika kayu tersebut remuk redam, Reina juga yakin dirinya tidak akan tenggelam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu memiliki rencana yang lebih besar untuk setiap umatnya.

Waktu terus berlalu, hari makin sore, seolah bayangan sang pemilik rumah kontrakan menghantui dirinya. Makin dalam Reina tenggelam dalam doa pasrahnya, ia berharap kayunya yang mulai lapuk tak akan habis terhanyut badai. Dan, benar saja, seiring bergulirnya senja, Alhamdulillah, saudara jauhnya membawa harapan itu menyala terang kembali, ia seperti pasukan yang Allah kirim untuk mencukupi hajat mereka, Saudara Reina meminjamkan sejumlah uangnya.

“Hitung-hitung rezeki gajian,” ujarnya dengan penuh kerendahan hati.

“Urusan balikinnya, lihat nanti saja. Omongkan nanti lagi saja,” ujar orang tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya Ibu Reina lekas berpakaian dan pergi untuk membayar kontrakan.

Langit boleh mulai gelap, tapi hati Reina kian terang. Keajaiban Karomah. Berikan beberapa puluh kata yang memiliki makna sama, pun setiap aksaranya tak mampu menggambarkan perasan Reina kala itu. Alhamdulillah, terima kasih, thank you, gracias, setiap suku katanya bahkan tidak mengalahkan air mata kelegaan yang meleleh dari mata kecokelatan Reina.

Reina semakin giat beribadah sejak hari itu, karena rezeki yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala hari ini tidak berarti bahwa Reina sudah bisa berhenti berjuang.

Karena …,
Semua belum berakhir sebelum segalanya berakhir; dan Allah tidak pernah tidur dan tak pernah capek untuk mengurusi dan mencukupi hambanya.

*

Tak terasa, air mata kami turut mengalir mendengar kisah Reina, betapa Allah amat sayang pada santriwati kami yang satu ini. Keyakinannya pada Allah tampak kuat tertancap di hatinya. Santriwati yang dulunya berjualan pop-mie, popcorn dan makanan di seputar masjid itu kini menjadi salah seorang santriwati kami, Askar Kauny. Ia selalu rajin menceritakan kisah-kisah “ajaibnya” kepada kami, betapa Allah sering kali “bercanda” untuknya, memberinya keajaiban-keajaiban di detik-detik akhir asanya mulai redup, saat seolah dunia menjadi sempit oleh peliknya persoalan, saat itulah Allah “mengulurkan” tangannya untuk menolong.

Bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Wassalam,

Kenkarein

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *