Inspirasi Kauny

Rafats, Fusuq, dan Jidal

Mungkin setiap jamaah haji mengetahui istilah yang sering kali diulang dalam pelaksanaan ibadah haji. Istilah-istilah ini sering disampaikan dalam manasik dan berulang kali disampaikan oleh para guru dan pembimbing ibadah haji. Istilah-istilah tersebut tiada lain adalah rafats, fusuq, dan jidal.

Apakah makna dari istilah-istilah di atas? Banyak sekali tafsir para ulama mengenai ketiga istilah itu. Sebetulnya ketiga istilah ini tidak berlaku khusus dalam ibadah haji. Namun, karena pemakaiannya sering kali digunakan saat ibadah haji dilaksanakan, terlebih lagi ada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang melarang 3 hal istilah ini, maka ketiga hal tersebut menjadi spesifik dan populer penggunaannya dalam ibadah haji.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (Q.S 2:197)

Lalu apakah makna ketiga istilah tersebut?

Rafats adalah hubungan biologis antara pasangan suami-istri, dan segala hal yang dapat menjurus ke arah sana. Baik pembicaraan, tingkah laku maupun tindakan. Termasuk di dalamnya perkataan kotor, jorok, atau tidak senonoh.

Fusuq adalah seluruh tindakan dan ucapan seorang hamba yang menyebabkan seseorang keluar dari ketaatan kepada kemaksiatan.

Jidal adalah berbantah-bantahan. Tindakan yang mengundang emosi sehingga seseorang menjadi marah dan menyebabkan kegaduhan dan mengganggu ketenangan muslim lainnya.

Ketiga hal ini dilarang untuk dilakukan oleh jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji, wa bil khusus saat mereka sedang berihram. Lalu apakah bila seseorang melakukan ketiga hal tersebut akan membatalkan haji yang sedang ia laksanakan? Jawabannya adalah tidak, hanya saja ia telah kehilangan keutamaan haji dan mungkin saja mengurangi pahalanya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Siapa yang berhaji sedang ia tidak melakukan rafats dan fusuq maka ia kembali (suci) seperti hari di mana ia dilahirkan ibunya.”(HR. Bukhari & Muslim)

Makna dari pelarangan ketiga hal di atas saat seorang muslim berhaji adalah peningkatan kualitas akhlak, di mana saat manusia sedang begitu ramai dan berdesakan di tanah haram maka boleh jadi ketiga hal yang dilarang ini akan mudah sekali dilakukan meski tanpa terasa. Oleh karenanya ibadah haji merupakan salah satu bentuk ujian atas kemabruran seseorang, sebab hanya manusia yang berakhlak mulia saja yang bisa mendapatkan kemabruran atas haji yang ia kerjakan. Wallahu A’lam.

Salam,
Ust. Bobby Herwibowo, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *