Inspirasi Kauny

Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Alhamdulillah, kita bersyukur karena masih dipertemukan dengan Muharram, Bulan Allah. Salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat dianjurkan untuk kita lakukan adalah puasa Tasu’a dan Asyura, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu —orang yang telah menemani rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada akhir masa kehidupan beliau dan dia memahami betul apa yang terjadi pada diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada saat itu, pernah ditanya tentang puasa ‘Asyura. Maka beliau menjawab,

“Tidaklah aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada satu hari yang beliau sangat berharap keutamannya kecuali pada hari ini —yakni Asyura, dan pada bulan ini —maksudnya pada bulan Ramadhan.” (Muttafaq Alaih)

Dalam Lathaif al-Ma’arif (hal. 71), Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, hari ‘Asyura memiliki keutamaan yang sangat agung dan kehormatan yang telah berjalan lama.

Berpuasa pada hari itu merupakan sebuah keutamaan karena hal tersebut telah dikenal sejak di kalangan para nabi alaihimussalam terdahulu. Nabi Nuh dan Nabi Musa alaihimassalam telah melakukannya. Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun pernah melakukannya saat masih berada di Makkah, sebagaimana disampaikan oleh istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Karena penting dan agungnya Puasa ‘Asyura ini, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus sahabatnya untuk mengumumkan kepada masyarakat muslim agar berpuasa pada hari tersebut.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Salamah bin al-Akwa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memerintahkan kepada seseorang dari Bani Aslam agar mengumumkan kepada manusia, “Barang siapa yang telah makan, maka hendaklah dia berpuasa pada sisa harinya itu, dan barang siapa yang belum makan, hendaklah dia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyura.” (Muttafaq Alaih)

Berapa dosa yang kita lakukan dalam sehari, seminggu atau sebulan? Jika dosa dalam sebulan saja tidak terhitung jumlahnya, apalagi dosa dalam setahun. Namun, berkat rahmat Allah, dosa setahun bisa terampuni dengan kita melakukan puasa ‘Asyura. Itulah salah satu bukti Rahman dan Rahimnya Allah Azza wa Jalla.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Qatadah disebutkan, bahwa seorang laki-laki telah datang dan bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang (keutamaan) puasa ‘Asyura. Mendengarkan pertanyaan tersebut, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab,

“Saya berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Selain puasa ‘Asyura, ada pula puasa Tasu’a, yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram. Hal ini dilakukan untuk berbeda dari apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan,

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan puasa hari Asyura, dan memerintahkan untuk melakukannya, mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya hari itu diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan (di bulan Muharram).” Ibnu Abbas berkata, “Namun, belum sampai tahun depan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat lebih dahulu.”
(HR. Muslim)

Dalam riwayat Ibnu Abbas, ia bekata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ . رواه مسلم

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku pasti berpuasa pada hari yang kesembilan (di bulan Muharram).”
HR. Muslim

Wassalam,
Ust. M. Yusuf Shandy, Lc.
(Pendakwah di Majelis Kauny, saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Baznas Bulukumba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *