Kabar Kauny

Mi Instan untuk Buka Puasa

“Jangan gampang putus asa, terus berjuang walaupun itu—Aduh…,” tangisan Asma (15) pecah sebelum dia dapat menyelesaikan ceritanya. Santriwati yang gemar memasak itu, sedang bernostalgia menceritakan masa lalunya. Membuka lagi buku tentang kenangan kehidupannya.

Saat kita berbicara tentang kehidupan, terbayang di benak saya sebuah piano tua yang memiliki sejumlah sejarah. Orang-orang yang menekan tuts, menciptakan sebuah alunan lembut. Piano memiliki tuts hitam yang bernama ebony atau jika kita gali filosofinya, ebony seperti kenangan buruk atau kesedihan. Kebalikan dari ebony, adalah ivory. Tuts putih yang bermakna kenangan menyenangkan. Sebuah lagu yang indah, membutuhkan ebony dan ivory. Kehidupan yang bermakna, membutuhkan kedua kenangan pahit maupun manis. Ia adalah dua sayap kehidupan. Suka dan duka, pahit dan manis, tangis dan tawa, sabar dan syukur.

Asma, santriwati remaja Askar Kauny itu tidak berasal dari keluarga yang kaya raya, Ibunya pun hanya berjualan ayam goreng untuk menyokong kebutuhan hidup keluarga mereka. Asma sering membantu ibunya berjualan, hingga mereka punya panggilan yang melekat, “emak ayam”.

Walaupun begitu, Asma dan keluarganya tidak pernah lupa untuk bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena masih diberikan kesempatan untuk merasakan banyak kenikmatan. Keadaan finansial mereka tidak menghalangi asupan nutrisi sehari-hari. Ya, bisa makan saja, bagi mereka adalah kekayaan yang sudah sepantasnya harus selalu mereka syukuri.

Kecuali hari itu, sebuah hari yang hingga kini tak bisa Asma lupakan, suatu hari di bulan Ramadhan.

Biasanya, akan ada seseorang yang mulia dan memberikan keluarga mereka beberapa makanan seperti telur, atau mi instan setiap bulannya. Akan tetapi, pada bulan itu lemari makanan Asma hanya berisi debu-debu kotor. Ibu Asma tidak berjualan pada bulan Ramadhan. Hal itu membuat persediaan uang mereka kian menipis bahkan tidak mencukupi untuk membeli bahan buka puasa hari itu.

“Mak, buka pakai apa hari ini?” pertanyaan lugu Asma bahkan seolah tak digubris oleh Ibunya.

Wanita yang telah berumur itu lebih memilih untuk berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan salat. Asma melihat Ibunya menengadahkan tangan dengan mata yang telah bercucuran. Bahkan, satu jam sebelum maghrib berkumandang mereka tidak tahu harus mengisi perut dengan apa. Hanya kepasrahan sajalah senjata mereka saat itu.

Dan, memang Allah-lah sang Rahman yang mengasihi hamba-hambaNya, sang Rozzaq yang memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya. Tepat beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang, seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Orang tersebut tiba-tiba memberikan satu kilogram telur, satu liter gula, dan satu dus mi instan.

Ya Allah, tidak ada yang dapat menandingi rasa syukur mereka saat itu, kata Asma dengan matanya yang berkaca-kaca. Serintik buliran air membasahi kerudungnya … DOA adalah “mukjizat” kaum mukmin …

“Emang bener ya Ummi, kalau kita berdoa dengan penuh keyakinan, dan memang kita butuhkan, in syaa Allah pasti Allah kasih,” ujar Asma sembari tersenyum mengusap butiran bening di ujung matanya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhkan Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah: 186).

Subhanallah, sungguh mulia kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Asma dan keluarganya diberikan berkah lebih dari Yang Maha Kuasa, Amiin.

Ditulis oleh: KenKarein

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *