Inspirasi KaunyQurban

Menggapai Haji Mabrur

Siapa pun yang telah menunaikan ibadah haji, pasti menginginkan memperoleh haji mabrur. Betapa tidak? Balasannya surga. Adalah aneh bila ada orang yang tidak menginginkan surga. Tapi apa yang dimaksud dengan haji mabrur dan bagaimana cara untuk memperolehnya?

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau didefinisikan, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan secara sempurna dengan memenuhi semua syarat, wajib dan rukunnya. Selain itu, dalam pelaksanaan ibadah haji tidak ada rafats (omong kotor), fusuq (kedurhakaan) dan tidak ada jida (bantah-bantahan/pertengkaran) (Al Baqarah (2):197).

Rasulullah pernah menyatakan, “Barang siapa yang melakukan ibadah haji karena Allah, kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan fasik/durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya.” (Muttafaq alaih).

Kata Mabrur diambil dari kata al birru (kebaikan). Dalam sebuah ayat Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Lantanalul birra hatta tunfiquu mimma tuhibbun

Kamu tidak akan mendapatkan kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian apa yang kamu cintai.” (Q.S 3:92)

Ketika kata mabrur (al birru) digandeng dengan kata haji maka ia menjadi haji mabrur atau haji yang memiliki sifat kebajikan.

Bukan hanya sekadar menginfakkan harta yang dicintai dengan penuh keikhlasan. Harta itu juga harus diperoleh secara halal. Haji yang dibekali dengan harta haram pasti Allah tolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”

Di akhir hadits Rasulullah menggambarkan seorang musafir sedang berdoa tetapi pakaiannya dan makanannya haram, maka Allah tidak akan menerima doa tersebut. (HR. Muslim)

Haji mabrur adalah haji yang mengantarkan pelakunya menjadi lebih baik dari masa sebelumnya. Alquran menggunakan kata al birru untuk pengabdian yang terus menerus kepada orang tua “wabarraan biwalidati.“(QS. 19:32)

Orang-orang yang selalu mentaati Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala yang dilarang disebut al abraar, kelak mereka di hari kiamat akan ditempatkan di surga. “Innal abraar lafii na’iem.” (QS. 82:13)

Bila diperhatikan ayat ini (khususnya rangkaian kata abraara lafii na’iem dan dikaitkan dengan hadits Rasulullah Al hajjul mabrur laisa lahuu jazaa illal jannah. (HR. Bukhari) maka akan terlihat kesamaan.

Orang-orang yang berbuat baik/berbakti (abraara) akan masuk surga (na’iem) dan orang yang memperoleh haji mabrur (satu akar kata dengan abraara) akan memperoleh surga (jannah).

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ditanyakan kepada Rasulullah apa tanda kemabruran haji itu? Rasulullah bersabda: “Memberi makanan dan berkata baik.” (HR. Ahmad, Thabrany, Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi, dan al Hakim).

Salam,
Ust. Bobby Herwibowo, Lc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *