Inspirasi Kauny

Kuda Putih yang Ditunggu

Banyak guru yang mengajarkan saya bahwa menghafal Alquran akan membuat anak bosan. Maka sering-seringlah memberinya hadiah. Ciptakan suasana yang menyenangkan, agar anak tidak bosan! Dua pesan itu; memberi hadiah dan suasana yang menyenangkan, benar-benar saya jalankan.

Kami selalu senang dalam menghafal Alquran. Tidak perlu membentak, marah atau kesal terhadap anak saat menghafal. Kami sering berolahraga pagi lebih dari 3 KM berjalan kaki sambil murajaah (mengulang-ulang hafalan). Atau saat kami sekeluarga di atas kendaraan untuk berkunjung ke rumah keluarga, kami pun murajaah. Tak terasa lebih dari 1 juz kami baca dengan suasana yang menyenangkan.

Untuk urusan hadiah, saya dan istri juga selalu memberi iming-iming kepada anak-anak apa hadiah yang mereka inginan kalau sudah berhasil menghafalkan juz demi juz Alquran.

Saya masih ingat saat ditanya tentang hadiah yang diinginkan oleh Mumtaz dan Hamzah ketika mereka berhasil menghafalkan juz 30. Keduanya menjawab bahwa mereka inginkan PSP. Sebuah konsol game yang Alhamdulillah saya mampu memberikannya.

Untuk juz 29 yang mereka berhasil hafalkan, hadiah yang mereka minta adalah raket badminton. Maka saya pun atas izin Allah ta’ala memberikannya.

Saya dan istri amat senang dengan pencapaian mereka. Dan mereka pun senang dengan hadiah yang didapatkan. Kami sekeluarga terpacu untuk menuntaskan hafalan Alquran juz demi juz. Semoga Allah ta’ala memberi kami dan Anda kemudahan. Aamiin.

Suatu kesempatan di atas kendaraan saat kami sekeluarga sedang bepergian, saya dan istri tertarik dengan dialog anak-anak kami. “Abi…, Ummi…, kalau abang berhasil menghafal 30 juz Alquran, boleh gak minta hadiah yang spesial?” tanya Mumtaz dan Hamzah.

“Apa hadiah yang kalian minta, sayang?” Istri saya menanggapi.

“Boleh gak kami minta seekor kuda?” tanya mereka dengan suara memelas.

Istri melirik saya untuk memberi jawaban, dan saya pun membalas, “Tentu boleh!”

“Warnanya Putih, ya, Abi!” Mereka meminta lagi.

“Insyaa Allah, sayang. Kalian boleh punya kuda berwarna putih bila kalian menuntaskan hafalan Alquran 30 juz!”

Mereka senang bukan kepalang. Meski belum memilikinya, kuda putih selalu mereka sebut dan jadi penyemangat mereka menghafal Alquran. Tinggal saya yang kini harus menabung untuk belikan kuda putih tersebut. Namun masalah yang muncul di benak adalah; andai kuda itu terbeli, di mana mau disimpan? Rumah kami sempit dan mencari rumput pun pasti sulit. “Hmm…, pasti Allah ta’ala akan memberi jalan,” gumam saya.

Benar saja, tidak sampai setahun setelah cita-cita itu hingga pertolongan Allah azza wa jalla datang. Kami pun pindah ke Cijulang, Cisarua, Bogor, bersama santri-santri penghafal Alquran di Ma’had Askar Kauny.

Tadinya anak kami 4, sekarang jadi 25 orang. Awalnya rumah kami ramai dengan bacaan Alquran, kini setiap hari bacaan itu semakin ramai terdengar! Hingga saat suatu momen yang tidak disangka, anak-anak santri meminta olahraga berkuda untuk mereka.

Di kawasan Puncak, Bogor, kuda amat mudah ditemukan. Dan para pemilik kuda bersedia melatih santri di hari-hari kerja, bukan akhir pekan. Sebab kebanyakan kuda di daerah Puncak, ramai disewa pada akhir pekan. Maka disepakati kami menyewa kuda 2 kali dalam sepekan dengan harga yang amat murah.

Kali pertama mereka berlatih menunggang kuda, saya tak hadir sebab ada kesibukan di Jakarta. Ummi Maya yang menemani mereka tertawa bahagia menikmati tunggangan kuda. Semua aktivitas berkuda diabadikan oleh Ummi Maya dalam berbagai pose dan momen. Alhamdulillah semua bersuka cita!

Keesokan subuh, Ummi Maya menunjukkan foto dan video anak-anak kami berkuda. Setiap dokumentasi yang beliau tunjukkan kepada saya tak lupa diiringi dengan keterangan beliau yang riuh-rendah.

Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan bahagia yang beliau dan anak-anak kami alami saat menunggang kuda kemarin. Hingga saat saya lihat dokumentasi anak-anak kami berkuda, maka tak terasa air mata saya meleleh! Sontak, saya tersedu sesenggukan sebab menangis.

Istri saya bertanya, “Hei, kok malah nangis? Ada apa sayang?”

“Melihat foto kedua kuda putih inilah yang membuatku menangis…” tukasku. “Tidakkah kau sadari bahwa kedua anak kita, Mumtaz dan Hamzah pernah minta dibelikan kuda bila sudah hafal 30 juz?” tanyaku pada istri. “Mereka kini baru hafal 5 juz, belum 30…, namun Allah ta’ala sudah hadirkan untuk kita 2 kuda putih seperti yang mereka inginkan. Subahanallah wal Hamdu Lillah…. Aku pun tak perlu membelikannya dan merawat kuda tersebut. Allah ta’ala mudahkan untuk anak-anak kita merasakan kenikmatan berkuda tanpa harus membelinya, merawatnya…, bahkan sebelum mereka hafal 30 juz Alquran, Allah ta’ala telah datangkan apa yang kita inginkan,” ujar saya terbata-bata.

Istri saya lalu tersadar. Air matanya meleleh dan ia pun memeluk saya hangat. Subahanallah wa Tabarakallah…. Hidup jadi indah dengan menghafal Alquran, percayalah!

Wassalam,
Ust. Bobby Herwibowo, Lc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *