Kabar Kauny

Kesempatan itu Tidak Akan Tertutup

Banyak orang yang menunda untuk datang kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka merasa malu dan sungkan atas kenistaan dirinya. Di hadapan kemuliaan dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, serasa wajah tak mampu untuk diangkat. Tulang punggung pun semakin membungkuk agar paras diri tak terlihat oleh lainnya.

Ketahuilah, bahwa hingga mentari terbit dari barat pada saatnya, ketika itulah Anda tidak lagi memiliki kesempatan.

Sekarang, selagi hal itu belum terwujudkan, Anda masih berkesempatan untuk datang bertaubat menyongsong ampunan. Sehingga senyum merekah akan terlihat dari jiwa yang telah mendapatkan ampunan Tuhannya.

Purwono (bukan nama asli) adalah seorang eksekutif bisnis otomotif terkenal di negeri ini. Latar belakang pergaulan dan keuangan yang berkelas membuat dirinya terbiasa melakukan dosa yang juga ‘berkelas’. Hampir setiap dosa besar telah dia lakukan tanpa sungkan. Bahkan saking tidak mampu untuk berbuat apa-apa, maka sang istri terus mengadu kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar suaminya diberi petunjuk. Doa sang istri pun menjumpai ijabah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada Ramadhan beberapa tahun yang silam, istrinya sambil iseng mengajak Purwono untuk umrah. Awalnya, ia menolak dengan alasan kesibukan yang begitu padat. Namun dalam batinnya, ia tiada memungkiri bahwa dirinya amat takut mendapatkan ‘balasan atas dosa-dosanya’ ketika berada di tanah suci. Sebab terus-menerus diajak, maka berangkatlah Purwono bersama istri dan 3 putrinya ke tanah suci.

Sepanjang jalan, dosa dan kesalahan yang pernah ia lakukan terus menghantui. Hampir saja ia memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Namun saat itu, bisikan hatinya mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, minta saja ampunan-Nya dan engkau tidak bakal disia-siakan!

Suara hati itu meneguhkan niatnya. Selama perjalanan ia pun terus mengakui segala kesalahan dan memohon ampunan Tuhan.

Sesampainya di Baitullah, Purwono tiada kuasa menahan tangis. Begitu khusyuk ia memandangi Ka’bah. Air mata meleleh membasahi pipi sampai ke tepian kain ihram yang ia kenakan.

Segala apa yang ia takutkan tiada terwujud. Ia bahagia dan gembira. Sungguh ia merasa bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan ampunan kepadanya dan tidak menyia-nyiakan taubat yang ia kerjakan.

Mulai saat itu, Purwono meyakini bahwa kesempatan bertaubat tiada pernah tertutup. Terutama bagi mereka yang mau melakukannya.

Muhammad Rasulullah subhanahu wa ta’ala pernah menyampaikan:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat dosa pada waktu siang. Dan Allah Subhaanahu wa ta’ala membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat dosa pada waktu malam, sampai terbitnya matahari dari arah barat.” (HR. Muslim & An Nasa’i)

Usai menjalani umrah Ramadhan yang begitu berkesan, sepulangnya di tanah air ia memutuskan untuk menunaikan ibadah haji pada tahun yang sama. Sungguh, seolah Allah subhanahu wa ta’ala membukakan pintu taubat bagi dirinya, Purwono pun dapat dengan mudah berangkat haji, meskipun saat itu pendaftaran haji telah tertutup beberapa bulan sebelumnya.

Siapa yang dapat menghalangi kehendak Allah subhanahu wa ta’ala?! Kun Fa Yakun!

Wassalam,
Bobby Herwibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *