Inspirasi KaunyQurban

Antara Qurban dan Hadyu

Qurban adalah sebutan bagi binatang ternak (unta, sapi, atau kambing) yang disembelih dan dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sembelihan yang demikian disunahkan untuk seluruh kaum Muslimin baik yang melaksanakan haji atau tidak, sedang di tanah suci atau bukan. Penyembelihannya tepat pada hari Nahr (Idul Adha) dan hari-hari tasyrik.

Keutamaan tentang berqurban dapat kita lihat dalam hadits berikut.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada amalan anak manusia pada hari Idul Qurban yang lebih dicintai Allah dari penyembelihan qurban. Hewan qurban tersebut akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, rambut, dan kukunya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menyambut tetesan darah dengan sebuah wadah, sebelum darah tersebut menetes di tanah. Maka berqurbanlah dengan hati yang ikhlas.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu majah, dan Al-Hakim)

Hadits ini senada dengan ayat ke 37 Al-Hajj yang menyatakan bahwa binatang qurban yang dipersembahkan dengan keikhlasan hatilah yang akan diterima Allah. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Esensi dari berqurban adalah pernyataan syukur seorang hamba kepada Allah. Mengajak setiap manusia untuk selalu mengingat Allah sebagai Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki). Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 1-2).

Sedangkan Hadyu ialah sebutan untuk hewan ternak yang disembelih di Tanah Suci. Kata Hadyu bisa kita temukan dalam surat Al-Baqarah ayat 196:

Fa in uhshirtum famas tasyara minal hadyi, wa l, tahliq ru sakum hatta yablughal hadyu mahillah.

Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum hadyu sampai ke tempat penyembelihannya.

Hadyu terdapat dua: sunah dan wajib. Hadyu sunah, misalnya dilakukan oleh jamaah yang melakukan haji ifrad. Hadyu wajib, misalnya hadyu yang disembelih karena jamaah melakukan haji tamattu’ atau qiran. Atau yang bersangkutan tidak melakukan salah satu wajib haji, atau melanggar larangan ihram.

Di antara larangan ihram dan haji yang apabila dilanggar maka hukuman atau ‘dam’ nya menyembelih hadyu adalah; memakai wangi-wangian tanpa uzur, memotong kuku tanpa uzur, memotong atau mencabut tumbuhan di Tanah Haram, tidak mabit di Muzdalifah, tidak melontar ketiga jumrah pada hari-hari Tasyrik, tidak mabit di Mina pada hari-hari Tasyrik dan lainnya.

Penyembelihan hadyu ini harus dilaksanakan di Tanah Suci. Tidak bisa seorang jemaah haji Indonesia menyembelih hewan ‘dam’ tamattu’ -nya di kampung halaman.

Ust. Bobby Herwibowo, Lc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *